Rani hampir tidak
bisa mengatur nafasnya saat berpapasan dengan seorang cowok bernama Rezky. Jantungnya berdetak sangat kencang
saat Rezky dekat dengannya.
Awalnya Rani mengira ia mempunyai penyakit jantung, tapi setelah ia bertanya
kepada sahabatnya. Ternyata, ia jatuh cinta.
Rezky adalah anak paskibra, yang gagah, dan bisa bersosialisasi dengan baik. Mempunyai wajah yang menurut Rani cukup enak dipandang, dan dia adalah idola di SMA-nya. Siapa sih yang tak kenal dengan Rezky?.
Sampai saat ini, tak ada satu orang pun yang tahu bahwa Rani menyukai cowok yang tingginya 28 cm diatas Rani. Karena ia sadar bahwa nggak mungkin Rezky akan membalas perasaannya.
Jam tangan Rani menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya untuk pulang ke rumah. Di perjalanan Rani kaget karena ada yang memanggil namanya sangat kencang dan Rani pun membalikkan badan mungilnya itu, dilihatnya seorang cowok yang sedang lari menghampirinya. Jantung Rani pun tiba-tiba berdetak sangat kencang.
“Hai Ran.” Sapa cowok itu.
“Oh, hai Rez....ky.” Jawab Rani terbata-bata.
“Kok lo pulang sendirian? biasanya kan lo pulang ada yang nemenin”
Rani terdiam sejenak lalu berkata, “hmm, gue lagi ingin pulang sendiri ky”
“Oh gitu, nggak mau main dulu Ran?” tanya Rezky kepada Rani.
“Hahaha, mau main kemana ky. Nggak ada yang ngajakin gue main untuk saat ini” kata Rani santai.
“Bagus kalau gitu, sekarang lo ikut gue bentar” kata Rezky sambil menarik tangan mungil Rani.
Rani hanya diam. Perasaannya kini campur aduk antara senang dan takut. Takut Rezky memarahinya karena dia sudah tahu tentang apa yang ia rasakan padanya saat ini. Rani rasa, ia tak mungkin tahu. Rezky terus berjalan, mungkin ia mencari tempat untuk bisa mengobrol dengannya. Di saat Rezky sudah menemukan tempat yang tepat untuk mengobrol. Kali ini Rani benar-benar merasa grogi saat Rezky menatapnya.
“Akhirnya gue bisa bicara sama lo juga Ran” kata Rezky membuka pembicaraan.
“Emangnya lo mau bicara apa sama gue?” tanya Rani santai.
Rezky pun terdiam untuk berpikir dan lalu ia berdeham.
“Begini Ran, kamu kan Ketua OSIS nih. Jadi gue mau minta tanda tangan lo untuk menyetujui bahwa akan diadakan LDKS di sekolah kita ini.” kata Rezky kepadanya.
Rani terdiam sejenak. Lalu ia berkata, “ehemm, jadi cuma itu aja ky? Oke kalau gitu, lo siapin aja suratnya nanti gue tanda tangani besok.”
“Ya Ran, oke deh kalau gitu. Sekarang gue antar pulang ya, sekalian gue mau tahu rumah lo. Masa ketua kelas nggak tahu rumah rakyatnya sih, tapi gue ambil motor dulu di parkiran”
Rani hanya mengangguk tanda setuju.
Perasaan Rani saat itu sangat bahagia melebihi orang yang lagi mendapatkan nilai bagus pada ujian akhir semester kemarin. Tapi tetap saja Rani bingung, batinnya terus bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya? seorang Rezky idola sekolahnya itu mau mengantarkannya pulang, sungguh di luar dugaan.
5 menit berlalu, motor Rezky pun berhenti tepat di depan tubuh Rani yang munggil itu. Rezky pun langsung menyuruh Rani untuk naik ke motornya, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motor kesayangannya itu.
“Ran, rumah lo tuh dimana?” tanya Rezky.
“Rumah gue? Lo tinggal lurus, bentar lagi nyampe kok.” Jawab Rani santai.
“Yang warnanya hijau bukan?”
“Ya yang itu ky, turunin gue di sini aja”
“Kenapa harus di sini?” tanya Rezky heran.
“Oh nggak apa-apa sih, gue ingin lo turunin aja di sini” jawab Rani setengah teriak.
“Oh ya udah kalau gitu. Eh tapi gue ingin masuk rumah lo, boleh nggak?”
Rani hanya diam dan tak mampu berkata apapun. Rasanya tak mungkin seorang idola di sekolahnya itu mau memasuki rumahnya? Oh tuhan itu benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan. Batin Rani berbicara.
“Eh Ran, woy Rani !” kata Reky sedikit berteriak, “yaelah malah bengong.”
“Hmmm, ya ky bo..bo..bo...leh kok.” Jawab Rani terbata.
“Sip kalau gitu, berarti nggak jadi di sini kan turunnya?”
“Ya Ky.”
Sesampai di rumahnya Rani pun langsung menyuruh Rezky untuk duduk di halaman depan.
“Hmmm Ky, tunggu sebentar ya gue mau masuk dulu. Ambilin lo minum sama makanan ringan”
“Oke deh” jawab Rezky singkat.
Rani pun masuk ke rumahnya dan lagsung mengambilkan makanan serta minuman yang ada di meja tamu, lalu ia cepat-cepat menuju halaman depan.
“Nih Ky, biar lo nggak kelaparan dan nggak kehausan” kata Rani sambil menaruh makanan di meja.
“Aduh Ran, lo baik banget sih. Thank you ya.” Jawab Rezky sambil memasang wajah yang sangat manis.
Tanpa Rani sadari matanya terus melihat ke arah cowok berbadan tinggi itu. Lalu ia tersenyum. Entah apa yang harus di rasakan olehnya saat ini, apakah bahagia atau justru ini adalah bencana besar untuk seorang ketua osis seperti dirinya yang menyukai seorang idola di sekolahnya itu.
“Rannnnnnnnnnniiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Kata Rezky setengah berteriak.
“Ada apa ky, lo ngagetin gue aja.” Kata Rani dengan wajah yang kaget.
“Habisnya lo lihatin gue melulu. Gue kan jadi bingung.”
“Yaelah lo make bingung segala”
“Eh udah jam 2 nih. Gue pulang ya, jangan lupa besok lo tanda tangan” kata Rezky sambil berdiri.
“Ya Ky, hati-hati ya”
Rezky adalah anak paskibra, yang gagah, dan bisa bersosialisasi dengan baik. Mempunyai wajah yang menurut Rani cukup enak dipandang, dan dia adalah idola di SMA-nya. Siapa sih yang tak kenal dengan Rezky?.
Sampai saat ini, tak ada satu orang pun yang tahu bahwa Rani menyukai cowok yang tingginya 28 cm diatas Rani. Karena ia sadar bahwa nggak mungkin Rezky akan membalas perasaannya.
Jam tangan Rani menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya untuk pulang ke rumah. Di perjalanan Rani kaget karena ada yang memanggil namanya sangat kencang dan Rani pun membalikkan badan mungilnya itu, dilihatnya seorang cowok yang sedang lari menghampirinya. Jantung Rani pun tiba-tiba berdetak sangat kencang.
“Hai Ran.” Sapa cowok itu.
“Oh, hai Rez....ky.” Jawab Rani terbata-bata.
“Kok lo pulang sendirian? biasanya kan lo pulang ada yang nemenin”
Rani terdiam sejenak lalu berkata, “hmm, gue lagi ingin pulang sendiri ky”
“Oh gitu, nggak mau main dulu Ran?” tanya Rezky kepada Rani.
“Hahaha, mau main kemana ky. Nggak ada yang ngajakin gue main untuk saat ini” kata Rani santai.
“Bagus kalau gitu, sekarang lo ikut gue bentar” kata Rezky sambil menarik tangan mungil Rani.
Rani hanya diam. Perasaannya kini campur aduk antara senang dan takut. Takut Rezky memarahinya karena dia sudah tahu tentang apa yang ia rasakan padanya saat ini. Rani rasa, ia tak mungkin tahu. Rezky terus berjalan, mungkin ia mencari tempat untuk bisa mengobrol dengannya. Di saat Rezky sudah menemukan tempat yang tepat untuk mengobrol. Kali ini Rani benar-benar merasa grogi saat Rezky menatapnya.
“Akhirnya gue bisa bicara sama lo juga Ran” kata Rezky membuka pembicaraan.
“Emangnya lo mau bicara apa sama gue?” tanya Rani santai.
Rezky pun terdiam untuk berpikir dan lalu ia berdeham.
“Begini Ran, kamu kan Ketua OSIS nih. Jadi gue mau minta tanda tangan lo untuk menyetujui bahwa akan diadakan LDKS di sekolah kita ini.” kata Rezky kepadanya.
Rani terdiam sejenak. Lalu ia berkata, “ehemm, jadi cuma itu aja ky? Oke kalau gitu, lo siapin aja suratnya nanti gue tanda tangani besok.”
“Ya Ran, oke deh kalau gitu. Sekarang gue antar pulang ya, sekalian gue mau tahu rumah lo. Masa ketua kelas nggak tahu rumah rakyatnya sih, tapi gue ambil motor dulu di parkiran”
Rani hanya mengangguk tanda setuju.
Perasaan Rani saat itu sangat bahagia melebihi orang yang lagi mendapatkan nilai bagus pada ujian akhir semester kemarin. Tapi tetap saja Rani bingung, batinnya terus bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya? seorang Rezky idola sekolahnya itu mau mengantarkannya pulang, sungguh di luar dugaan.
5 menit berlalu, motor Rezky pun berhenti tepat di depan tubuh Rani yang munggil itu. Rezky pun langsung menyuruh Rani untuk naik ke motornya, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motor kesayangannya itu.
“Ran, rumah lo tuh dimana?” tanya Rezky.
“Rumah gue? Lo tinggal lurus, bentar lagi nyampe kok.” Jawab Rani santai.
“Yang warnanya hijau bukan?”
“Ya yang itu ky, turunin gue di sini aja”
“Kenapa harus di sini?” tanya Rezky heran.
“Oh nggak apa-apa sih, gue ingin lo turunin aja di sini” jawab Rani setengah teriak.
“Oh ya udah kalau gitu. Eh tapi gue ingin masuk rumah lo, boleh nggak?”
Rani hanya diam dan tak mampu berkata apapun. Rasanya tak mungkin seorang idola di sekolahnya itu mau memasuki rumahnya? Oh tuhan itu benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan. Batin Rani berbicara.
“Eh Ran, woy Rani !” kata Reky sedikit berteriak, “yaelah malah bengong.”
“Hmmm, ya ky bo..bo..bo...leh kok.” Jawab Rani terbata.
“Sip kalau gitu, berarti nggak jadi di sini kan turunnya?”
“Ya Ky.”
Sesampai di rumahnya Rani pun langsung menyuruh Rezky untuk duduk di halaman depan.
“Hmmm Ky, tunggu sebentar ya gue mau masuk dulu. Ambilin lo minum sama makanan ringan”
“Oke deh” jawab Rezky singkat.
Rani pun masuk ke rumahnya dan lagsung mengambilkan makanan serta minuman yang ada di meja tamu, lalu ia cepat-cepat menuju halaman depan.
“Nih Ky, biar lo nggak kelaparan dan nggak kehausan” kata Rani sambil menaruh makanan di meja.
“Aduh Ran, lo baik banget sih. Thank you ya.” Jawab Rezky sambil memasang wajah yang sangat manis.
Tanpa Rani sadari matanya terus melihat ke arah cowok berbadan tinggi itu. Lalu ia tersenyum. Entah apa yang harus di rasakan olehnya saat ini, apakah bahagia atau justru ini adalah bencana besar untuk seorang ketua osis seperti dirinya yang menyukai seorang idola di sekolahnya itu.
“Rannnnnnnnnnniiiiiiiiiiiiiiiiiii.” Kata Rezky setengah berteriak.
“Ada apa ky, lo ngagetin gue aja.” Kata Rani dengan wajah yang kaget.
“Habisnya lo lihatin gue melulu. Gue kan jadi bingung.”
“Yaelah lo make bingung segala”
“Eh udah jam 2 nih. Gue pulang ya, jangan lupa besok lo tanda tangan” kata Rezky sambil berdiri.
“Ya Ky, hati-hati ya”
***
Pagi yang cerah menyinari wajah ceria Rani yang tak sabar ingin datang ke sekolah. Sebelum ia berangkat, Rani pun menyiapkan bekal untuk di kasih ke Rezky. Jujur Rani sangat takut. Takut Rezky tidak mau menerimanya.
Pagi yang cerah menyinari wajah ceria Rani yang tak sabar ingin datang ke sekolah. Sebelum ia berangkat, Rani pun menyiapkan bekal untuk di kasih ke Rezky. Jujur Rani sangat takut. Takut Rezky tidak mau menerimanya.
Sesampainnya di sekolah, Rani berjalan
menyusuri koridor sekolah sambil memegang bekal yang akan ia kasih ke pujaan
hatinya itu. Ketika sampai di dekat kelas, Rani pun menghentikan langkahnya.
Dilihatnya seorang cowok berbadan tinggi itu
sedang berbicara dengan cewek tinggi, berparas cantik dan menawan. Menurut Rani
cewek itu sangat perfect. Rani
akhirnya memutuskan untuk tidak jadi memberikan bekal makanan itu dan berjalan
membelakangi Rezky dan cewek itu .
Secara
tidak sengaja, Rezky pun melihat cewek mungil itu dan langsung mengejarnya
tanpa memperdulikan cewek yang sedang mengobrol dengannya itu.
“Hai, Ran. Kok lo langsung pergi gitu aja?” tanyanya.
“Hai, ky. Hmm, gue nggak mau ngangu lo aja. Secara lo lagi sama shelna, cewek yang naksir berat sama lo.” Jawab Rani apa adanya.
“Hahaha, ya ampun lo sebegitu nggak mau ngangunya. Shelna bukan tipe gue kali”
“Hai, Ran. Kok lo langsung pergi gitu aja?” tanyanya.
“Hai, ky. Hmm, gue nggak mau ngangu lo aja. Secara lo lagi sama shelna, cewek yang naksir berat sama lo.” Jawab Rani apa adanya.
“Hahaha, ya ampun lo sebegitu nggak mau ngangunya. Shelna bukan tipe gue kali”
Ya ampun cowok ini benar-benar sangat bodoh. Masa
di dekati cewek se-perfect shelna aja
sok bilang bukan tipe gue. Batin Rani.
“Ya ampun, lo hobi bengong ya?” tanya Rezky heran.
“Ya nggak apa-apa, suka-suka gue dong. Lagian aneh aja lo nggak suka sama cewek super cantik itu.” Jawab Rani sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal itu.
“Hahaha, lo tuh lucu banget ya. Manusia itu punya selera masing-masing, Ran” kata Reky sambil memegang pundak Rani, “lagian gue udah punya seseorang yang gue suka, tinggal nunggu waktu yang tepat aja”
“Oh oke deh, gue cabut ke kelas dulu” kata Rani sambil membalikkan badan.
“Tunggu dulu, ini bekal yang di tangan lo buat gue kan?”
“Lo mau? Ambil aja nih”
“Thank’s Ran, kebetulan gue lapar banget. Udah 3 hari ini berat badan gue turun”
“Oke sama-sama, lo kebanyakan curhat” kata Rani kali ini benar-benar meninggalkan cowok berbadan tinggi itu.
“Ya ampun, lo hobi bengong ya?” tanya Rezky heran.
“Ya nggak apa-apa, suka-suka gue dong. Lagian aneh aja lo nggak suka sama cewek super cantik itu.” Jawab Rani sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal itu.
“Hahaha, lo tuh lucu banget ya. Manusia itu punya selera masing-masing, Ran” kata Reky sambil memegang pundak Rani, “lagian gue udah punya seseorang yang gue suka, tinggal nunggu waktu yang tepat aja”
“Oh oke deh, gue cabut ke kelas dulu” kata Rani sambil membalikkan badan.
“Tunggu dulu, ini bekal yang di tangan lo buat gue kan?”
“Lo mau? Ambil aja nih”
“Thank’s Ran, kebetulan gue lapar banget. Udah 3 hari ini berat badan gue turun”
“Oke sama-sama, lo kebanyakan curhat” kata Rani kali ini benar-benar meninggalkan cowok berbadan tinggi itu.
***
“Hei Ran, lo benar-benar kurang kerjaan ya.” Kata
seorang cewek berbadan tinggi itu.
“Hah? Gue kurang ajar apaan coba, Shel?” tanya Rani heran.
“Masih nanya, lo udah ngangu waktu gue sama Rezky!” Jawab Shelna dengan wajah yang siap-siap menengkramnya hidup-hidup.
“Gue nggak merasa ngangu lo kok, Rezky itu ngejar gue karena ada urusan. Lo siapanya dia marah tiba-tiba nggak jelas gitu”
“Rezky itu calon pacar gue, ngerti?” kata Shelna ketus.
“Ngaku-ngaku lagi, belum tentu Rezky mau sama lo. Emangnya lo tahu kalau Rezky punya perasaan yang sama dengan lo?” tanya Rani yang mulai kesal.
“Kurang ajar lo” Jawab Shelna sambil menumpahkan air keruh ke tubuh mungil Rani.
“Apa-apaan ini?” Kata Rezky yang tiba-tiba datang.
“Dia kurang ajar ke gue, Ky” kata Shelna sambil memeluk tangan Rezky.
“Lepasin Shel, gue udah denger semuanya dan gue mau menegaskan sama lo. Bahwa GUE NGGAK SUKA SAMA LO!” Kata Rezky sedikit berteriak.
“Apa kurangnya aku? Terus lo suka sama siapa?” tanya Shelna sambil menangis.
“Gue suka Rani! gue suka sama dia sejak pertama kali dia datang di hidup gue. Puas lo sekarang Shel?”
“Lo jahat ky” kata Shelna sambil berlari menuju toilet.
“Hah? Gue kurang ajar apaan coba, Shel?” tanya Rani heran.
“Masih nanya, lo udah ngangu waktu gue sama Rezky!” Jawab Shelna dengan wajah yang siap-siap menengkramnya hidup-hidup.
“Gue nggak merasa ngangu lo kok, Rezky itu ngejar gue karena ada urusan. Lo siapanya dia marah tiba-tiba nggak jelas gitu”
“Rezky itu calon pacar gue, ngerti?” kata Shelna ketus.
“Ngaku-ngaku lagi, belum tentu Rezky mau sama lo. Emangnya lo tahu kalau Rezky punya perasaan yang sama dengan lo?” tanya Rani yang mulai kesal.
“Kurang ajar lo” Jawab Shelna sambil menumpahkan air keruh ke tubuh mungil Rani.
“Apa-apaan ini?” Kata Rezky yang tiba-tiba datang.
“Dia kurang ajar ke gue, Ky” kata Shelna sambil memeluk tangan Rezky.
“Lepasin Shel, gue udah denger semuanya dan gue mau menegaskan sama lo. Bahwa GUE NGGAK SUKA SAMA LO!” Kata Rezky sedikit berteriak.
“Apa kurangnya aku? Terus lo suka sama siapa?” tanya Shelna sambil menangis.
“Gue suka Rani! gue suka sama dia sejak pertama kali dia datang di hidup gue. Puas lo sekarang Shel?”
“Lo jahat ky” kata Shelna sambil berlari menuju toilet.
Rani terdiam dan tidak menyadari kepergian
Shelna. Di situ ia nggak tahu harus berbuat apa dan apakah ia harus senang apa
tidak. Rezky melihat Rani yang basah itu dengan rasa kasihan, lalu mengelap
wajah mungil Rani dengan lembut. Rezky tersenyum dan berkata, “Ran yang gue
suka itu lo, tadi lo udah dengar kan. Maaf gue baru sekarang berani ngedeketin
lo”
“Ya ky, gue dengar semua dan gue senang. Makasih ky” kata Rani tersenyum.
Tiba-tiba Rezky pun mencium pipi Rani lalu berkata, “ will you be my girlfriend?”
“Ya ky, gue dengar semua dan gue senang. Makasih ky” kata Rani tersenyum.
Tiba-tiba Rezky pun mencium pipi Rani lalu berkata, “ will you be my girlfriend?”
Rani pun terdiam dan mengangguk pelan tanda setuju. Mereka pun berpelukkan
dengan penuh kehangatan. Jantung Rani saat ini benar-benar tidak bisa di ajak
untuk berteman.
THE END
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
If you want a polite comment!!!